Hujan bulan Mei merenggut pikiran Anya dari pikiran warasnya. Meski hujan lebat tadi sore telah berganti dengan gerimis, namun tetap tidak mengurangi rasa dingin di malam itu. Anya menutup jendela beranda kamarnya. Rasa dingin mengalahkan keinginannya untuk mencari bintang di kelamnya langit malam itu. Anya menutup tirai jendela. Lagu Unchained Melody mengalun lembut dari DVD Player membuat Anya makin terpojok dalam kesepian dan terhempas jauh dalam kesadaran, bahwa ia betul-betul merasa sendirian. Dan malam yang panjang dengan kejam merobek-robek perasaan bahagia yang hanya ada sedikit di hatinya merobeknya hingga menjadi serpihan kecil, sampai Anya tidak merasakannya lagi.

Anya mengusap jas almamaternya yang pagi itu masih terlipat rapi. Sebenarnya bukan miliknya. Ada noda darah di sana. Dibagian dada, noda darah yang menghitam.

Anya menghela napas panjang. Lalu mengambil tasnya yang ada di atas tempat tidur. Teman-teman satu kost-nya telah berangkat lebih dulu. Anya berjalan kaki sebentar sebelum akhirnya menyetop sebuah Angkot.

Langit pagi itu sangat bagus. Cahaya matahari juga belum membakar kulit. Membuat Anya merasa nyaman duduk di pinggir lapangan Basket, melihat beberapa temannya bermain. Saat break time, seorang cowok berbadan tegap dan berambut agak kemerahan menghampiri Anya.

“Gak ada dosen?”

Cowok itu duduk sambil meluruskan kakinya.

“Belum dateng tuh! Telat kali!”

“Mo ikut maen bentar gak?”

“Iih… kagak! Masuk kelas bau keringet gitu bisa-bisa ditimpuk gue! Ngaco lo!”

Cowok itu Cuma tertawa.

“Tahun ini… lo ikut turn lagi?”

“Iya, Nggar! Pasti…”

“Lo tau gak sih bahanya ikut demonstrasi kayak gitu, Nya?”

“Tau….tapi gue…suka ngelakuinnya…”

Enggar mengusap keringat di dahinya.

“Lo Cuma pengen mengenang Raka….”

Anya menggigit bibirnya.

“Emang gue Cuma bisa mengenang, Nggar…”

Anya bangkit dari duduknya. Dengan wajah sedih membuat Enggar menyesal telah menyebut nama sahabatnya di depan Anya.

Enggar dan Raka adalah sahabat dekat sejak SMP sampai ke Universitas, satu kelas pula. Sedangkan Anya adalah cewek SMA yang kebetulan kenal dengan Enggar. Enggar ternyata adalah kekasih dari kakak perempuan Anya. Dari cuma tegur sapa, akhirnya Enggar pun dekat dengan Anya. Kemudian Enggar mengenalkan Anya pada Raka. Tak butuh waktu lama untuk membuat dua orang tersebut saling menyukai. Raka terkesan dengan keceriaan sekaligus kecerdasan Anya, sedangkan Anya sangat kagum terhadap cara Raka menjalani hidup. Tak butuh waktu panjang sampai akhirnya mereka berpacaran. Dan hubungan mereka sangat baik, saling menghormati satu sama lain. Sampai hari itu, hari yang menghempaskan kebahagiaan Anya.

Mei, 1998

“Nggak usah ngeliatin aku kayak gitu ah!” Raka protes. Saat itu ia sedang mencoba jas almamater dan ikat kepala bertuliskan “REFORMASI”. Anya menggigit bibirnya. Ia bingung, tak bisa menafsirkan perasaan gelisah di hatinya. “Apa emang harus ikut?” Anya bertanya dengan suaru pelan. Amat pelan. Raka berbalik dari cermin. Lalu berlutut di hadapan Anya yang duduk di bangku dengan gelisah.

“Aku ikut…karena inilah cara untuk membuka jalan bagi bangsa ini untuk maju…”

“Tapi kamu gak harus pergi, Raka! Teman-teman dari Universitas lain masih banyak! Aku gak ngerti ‘kenapa…”

“Kamu harus mencoba mengerti Anya…aku selalu ingin melihat perubahan dalam bangsa ini… melihat politik yang bersih, pejabat yang jujur, rakyat yang sejahtera, dan kebebasan yang selama 32 tahun ini, belum kita rasain… Ini adalah jalannya Anya… Dan aku harus ikut melewati jalan itu…”

Anya mulai meneteskan air mata. Raka mengusap kepalanya.

“I’ll be fine! Percayalah! Selesai aksi, aku akan datang kepadamu..dengan kabar bahwa Reformasi telah mendobrak TIRANI. Setelah itu…kita bisa nonton film Kartun kesukaan kamu! Hehe…Gimana? Deal? Janan nangis yah…”

Dan Raka tidak menepati janjinya. Ia memang kembali. Namun tidak dengan wajah ceria sambil memegang bendera Merah Putih, tidak juga dengna film Kartun. Ia datang dengan luka tembak di dada kanan. Dan semenjak itu, perasaan Anya ikut mati bersamanya. Terkubur jauh.

“RAKAAA….!!”

Anya terbangun. Keringat bercucuran di dahinya. Membasahi baju tidurnya yang sudah basah oleh keringat. Lampu temaram membuat Anya tahu jam berapa saat itu. Ia melihat ke jam wekernya. Jam tiga pagi lagi.

Bukan sekali dua kali Anya terbangun di tengah malam ataupun pagi buta begini. Semenjak kematian Raka, gadis itu hampir tidak pernah tidur dengan nyenyak. Bayangan Raka…meski sudah satu dekade berlalu…tetap saja lekat dalam ingatannya. Bukan Cuma sekali dua kali juga ia mencoba bunuh diri. Bahkan sampai tinggal kelas selama setahun dan menunda kuliahnya selama dua tahun. Kalau saja keluarganya, juga Enggar, ada di sampingnya…entah apa jadinya Anya saat ini.

Anya turun ke lantai dapur. Mengambil air minum dari lemari es. Beberapa lampu di kamar lain masih menyala. Anya duduk di ruang tamu. Menatap langit-langit.

“Kenapa kamu pergi secepat itu, Raka….”

* * *

“Jadi lo gak kuliah hari ini?”

Enggar menyampirkan tasnya ke Bahunya. Tangan kirinya memegang ponsel.

“Gak…gue…lagi gak konsen…”

Enggar menghela napas.

“Oke…gue ngerti…inget, gak boleh macem-macem! Tar gue bilangin ke Anggi!”

“Yee…kok bawa-bawa kakak gue?”

“Biar lo takut…haha…”

“Dasar! Kagak ngaruh!”

“Ya udah! Yang penting lo take care aja!”

“Iya…lo gak usah khawatir!”

Anya memasukkan ponsel ke saku jeans-nya. Sungguh ia tak ingin berpikir banyak hari itu. Ia ingin menenangkan pikirannya bersantai. Melakukan hal-hal yang bisa membuatnya merasa lebih nyaman.

Anya memasuki arena skating. Berkonsentrasi pada hal yang belum ia kuasai mungkin bisa menjauhkannya dari pikiran lain.

Arena skating itu agak sepi. Wajar saja. Tempat itu baru saja buka 15 menit yang lalu. Anya memakai sepatu skating yang disewanya dan segera mencoba meluncur di arena es yang lumayan luas itu. Anya terjatuh beberapa kali. Ia menertawakan dirinya sendiri. Hatinya merasa sedikit tenang. Dan setelah sekitar 30 menit mengitari lapangan es, ia berstirahat. Sedikit goyah saat ia mencoba duduk di kursi panjang di pinggir lapangan. Ia memesan kopi panas.

Ia sudha duduk sekitar satu jam. Lapangan skating mulai ramai. Anya hanya melihat, ia sudah tak berminat bermain lagi. Anya melihat ke jam tangannya. Jam dua belas siang. Perutnya merasa lapar. Ia mengembalikan sepatu skating lalu turun ke lantai bawah. Mencari tempat makan. Seseorang menyenggolnya. Menumpahkan cola-nya ke kaos Anya.

“Aduhh! Goblog gue! Sori…sori banget!! Lo gak pa pa kan?”

Anya bengong.

“Duhh! Gimana nih! Gue mang kikuk banget deh!”

“Eh! Gue gak apa-apa kok!”

cowok bertopi hitam itu masih panik.

“Ya apa-apa lah! Lo kan cewek! Sini! Ikut gue!”

“Waduh! Mau dibawa kemana ni gue?” Pikir Anya saat cowok itu menarik tangannya.

Mereka berhenti di depan counter pakaian casual merk terkenal. Cowok itu, tanpa pikir panjang, menariknya masuk.

“Maaf! Tolong pilihin baju buat dia ya! Yang bagus! Awas kalo enggak!”

Anya terlonjak.

“Eh! Gue gak bawa duit buat beli baju!” Protesnya.

Cowok itu menatap Anya.”Ya bukan loe yang beli tapi gue!”

“HAAAH….!!!”

“Karena gue udah Bego Banget! Gak ati-ati sampe bikin Baju cewek jadi kotor! Udah, nurut aja! Pilih tuh bajunya!”

“Gak usah segitunya kali! Cuma kotor dikit doank!”

“Nggak bisa! Aduhh…cerewet deh…tinggal pake doank! Mbak, tolong ya!”

Cowok itu mendorong Anya ke arah pramuniaga yang langsung menariknya ke ruang ganti. Akhirnya, Anya malah cuma bisa ‘angguk-angguk’ atau ‘geleng-geleng’ waktu di sodorkan beberapa helai pakaian ke depan hidungnya.

* * *

“Waaaahh…! cocok banget tuh! Mbak, yang lainnya dibungkus langsung ya!”

‘Dibungkus? Lo kira martabak!’

Cowok, yang belum diketahui namanya itu, langsung membayar dengan Kredit Card lalu mengumpulkan kantong-kantong pakaian di tangna kirinya. Tangan kanannya menarik tangan Anya. Mereka turun ke lantai dasar dengan lift. Anya tak sempat protes saat cowok itu menyetop sebuah Taksi berwarna biru, menyerahkan selembar uang seratus ribuan, membuka pintu mobil lalu mendorong Anya masuk setelah memasukkan kantong-kantong belanjaan. Luar Biasa!

“Anter ke tempat yang dia bilang ya, Pak!”

Dan Taksi itu langsung meluncur.

* * *

“Cowok gila?” Hampir saja Enggar menyemburkan teh yang sedang diminumnya. Saat itu ia masih di kampus. Berkutat dengan laptop dan tugas akhir yang sedang dibuatnya.

“Iya tuh! Masa cuma gara-gara numpahin minum ke baju gue, dia ngebeliin gue baju delapan biji?”

“Haah? Lo terima semua?”

“Kejadiannya cepet banget! Gue gak bisa kabur! Baju-bajunya gue kasih ke temen-temen kost-an gue deh!”

“yee.. kan asik tuh GRETONGAN!”

“Ngaco lo!”

Hening.

“Ada yang pengen gue bilang ke lo, Nya! Tapi.. gue harap lo bisa ngendaliin diri lo..”

“….”

“Enggar…?”

“Gue tau…orang yang nembak Raka…”

Hampir saja ponsel yang dipegang Anya terjatuh. Anya merosot jatuh di Lantai.

“A…apa..? Bu..bukannya…”

“Gue juga gak sengaja tau…”

Lapangan kampus masih sepi saat Anya datang. Jam enam pagi bukanlah jam mahasiswa stand by buat kuliah. Anya duduk di bangku di samping lapangan. Ia memandang langit. Pikirannya terbang…ke sepuluh tahun lalu…

Mei, 1998. Rumah Sakit

Anya tidak mempedulikan tatapan orang-orang saat ia berlari di sepanjang koridor menuju Unit Gawat Darurat. Ia melihat Enggar di sana bersama Anggi kakaknya. Wajah mereka sama pucatnya dengan wajah Anya.

“Raka…Mana dia?”

Anya berusaha menerobos masuk. Tapi tangan Enggar dengan kuat memegang bahunya. Anggi mendekat lalu memeluk Anya. Anya menatap Enggar. Dengan harapan Enggar akan berkata bahwa Raka baik-baik saja. Namun Enggar hanya mampu menggeleng. Anya berteriak misterius. Ia berusaha masuk ke ruang UGD. Ia melihat seseorang di sana sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

Halaman Istana Negara, 2008

Anya dan teman-temannya mulai menerobos Barikade Polisi. Berusaha masuk ke pelataran Istana Negara. Hari itu, ia dan ratusan atau bahkan mungkin ribuan Mahasiswa, menggelar unjuk rasa dalam rangka peringatan hari reformasi yang menjatuhkan banyak korban, yang kebanyakan dari kalangan Mahasiswa.

Anya melihat kerumunan itu. Kerumunan orang-orang yang larut dalam histeria. Orang-orang yang tenggelam dalam butanya mata hati karena keinginan yang belum tercapai. Orang-orang yang berharap suara mereka akan didengar. Pertanyaan bergulir dalam hati Anya.

“Sebenarnya, apa reformasi itu? Kebebasan atau kematian? Perjuangan yang sia-sia? Atau hanya khayalan kita, orang-oerang yang menginginkan keadilan? Namun… jika memang cuma khayalan…apakah ada khayalan yang merenggut nyawa?”

“TEGAKKAN REFORMASI!!!”

“TUMPAS KETIDAKADILAN!!!”

“DENGARKAN SUARA RAKYAT!”

Anya terhempas ke alam sadar. Ia meraba almamater Raka yang dipakainya.

“Hari ini….” Gumamnya. Ia mencengkeram almamater itu.

“Hari ini aku bersamamu Raka…”

Dan baku hantam dengan aparat mulai terjadi. Tembakan peringatan terdengar. Teriakan-teriakan bergema. Anya menembus masuk ke dalam Barikade Polisi. Berusaha masuk lebih jauh ke dalam Istana Negara. Disusul ratusan Mahasiswa lainnya. Anya bahkan belum sempat menggapai pagar saat dirasakannya Hantaman benda tumpul di kepalanya.

“Raka…”

Dan tubuhnya melayang jatuh.

* * *

“Sejak hari itu gue keluar dari kepolisian…”

Enggar dan seorang cowok berbadan tegap duduk begitu saja di pinggir nisan. Nama Anya terukir di sana.

“Gak ada niat untuk ngebunuh siapa pun…”

“Tapi kenyataannya…”

“Itu hari yang naas! Tragedi paling memilukan bagi bangsa ini! Gue gak pernah berniat menggunakan peluru untuk menembak orang yang gak bersalah…”

“….”

“Gue…minta maaf…”

“Semua udah selesai… bahkan Anya juga pergi…”

“Yaah.. padahal gue baru ketemu dia satu kali… itu pun gara-gara gue numpahin minum ke bajunya. Padahal… ke dia… gue mau minta maaf…”

Enggar bangkit dari duduknya. Meninggalkan cowok itu dengan Anya yang mungkin sudah bersama Raka.

“Apa sebenarnya Reformasi itu?

Mengapa harus ada Reformasi?

Mengapa harus ada korban?

Apakah sedemikian sulitnya menegakkan Reformasi?

Lalu kapan Bangsa ini Bangkit?

Berapa korban harus jatuh…

Saat kita mencoba mendobrak kebusukan dan ketidakadilan?

Berpa lama lagi kita menunggu?

Sampai Reformasi bisa kita teriakkan dengna lantang…??”

by: Nofri_Eka

#TAMAT#