POLITIK YANG ANEH, KEJAM, DAN MEMBINGUNGKAN ??

Negara ini tidak akan terbentuk tanpa ada sebuah politik yang selalu mengikutinya. Dan kita pun seharusnya menyadari bahwa politik selalu hadir pada perjalanan hidup kita, mau tidak mau politik akan ikut mempengaruhi kehidupan kita. Hal tersebut berlangsung sejak kelahiran sampai dengan kematian. Tergantung bagaimana kita melaksanakan politik tersebut. Apakah politik itu akan membawa kita ke dalam kebaikan, ataukah politik itu akan membawa kita ke dalam keburukan?

Politik adalah sebuah singkatan yaitu pola dan taktik. Pola disini adalah sebuah rancangan-rancangan untuk menjalankan sebuah taktik. Maksud dari rancangan-rancangan tersebut adalah sebelum kita menjalankan sebuah cara untuk mencapai tujuan itu, kita harus mempengaruhi banyak orang untuk membantu menjalankan tujuan akhir kita. Contohnya seperti kita memiliki tujuan untuk bisa menempati salah satu kursi pemerintahan seperti Presiden, untuk mendapatkan itu kita harus membentuk pola-pola atau rancangan-rancangan untuk memperlancar sebuah tujuan akhir kita. Maksud dari rancangan atau pola disini adalah memberikan pengaruh-pengaruh kepada orang-orang awam. Dengan cara kita berkampanye, memberikan sembako kepada masyarakat kecil, dll, agar mereka terpengaruh dan terlena oleh kebaikan kita. Setelah mereka terlena dan mempercayai kita, otomatis mereka akan mendukung/membantu kita untuk menjadi seorang presiden. Tapi kebanyakan setelah tercapai tujuannya, kita melupakan mereka semua yang telah membantu kita. Padahal sebelumnya kita memberikan janji-janji yang menggiurkan mereka. Tetapi apa nyatanya yang ada pada saat ini, janji itu begitu saja dilupakannya. Semuanya itu hanya sebuah siasat untuk mencapai tujuan akhirnya.

Mungkin dunia politik di negara kita akhir-akhir ini semakin licik dan aneh saja, karena politik yang mereka mainkan di kursi pemerintahan saat ini bertolak belakang sekali dengan arti politik yang sesungguhnya. Ternyata politik yang kita temui pada saat ini adalah sebuah cara untuk memperoleh kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Politik yang kita temui pada saat ini hanya sebuah cara untuk membuat perut mereka (pejabat negara) menjadi kenyang dan membuat rakyat kecil menjadi sengsara/kelaparan oleh tindakan mereka yang memakan hak-hak yang seharusnya diberikan kepada rakyat kecil. Seperti pajak-pajak yang seharusnya dijadikan sebuah sarana masyarakat, tetapi dana pajak itu dimakan dengan lahapnya oleh mereka (pejabat). Entah dimana otak dan pikiran mereka disimpan. Apakah mereka tidak sadar bahwa rakyat kecil disana akan semakin kelaparan, jika mereka tetap menjalankan politik yang seperti itu. Politik saat ini hanya digunakan untuk menghancurkan lawan mainnya. Seperti tindakan yang dilakukan Soeharto kepada Majalah Time waktu itu, Majalah Time yang berniat mengungkap semua hasil kejahatan-kejahatan Soeharto, tetapi malah Times yang terkena senjatanya sendiri yang seharusnya untuk menyerang Soeharto. Time dihukum membayar denda sebesar Rp. 1 Triliun, mereka juga harus meminta maaf kepada Soeharto yang dimuat di lima Koran dan majalah nasional plus majalah Time edisi Asia, Eropa, dan Amerika selama tiga kali berturut-turut. Masih ada perintah lain: permintaan maaf itu harus disiarkan di lima televisi nasional selama tujuh hari berturut-turut (Majalah TEMPO).

Banyak sekali para pejabat negara kita bahkan hampir semua menganggap bahwa “citra dianggapnya lebih penting ketimbang kinerja”. Mereka lebih memilih rakyat sengsara ketimbang mereka kehilangan citra mereka. Padahal prinsip demokrasi kita adalah “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”, tetapi kenapa sekarang menjadi terbalik? Mungkin prinsip demokrasi kita kali ini adalah “dari rakyat, oleh rakyat, untuk pemimpin, keluarga, serta partainya”. Seakan-akan rakyat hanyalah “dayang-dayang” yang harus melayani rajanya. Padahal rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, artinya bahwa rakyatlah yang memiliki negara, bukan negara yang memiliki rakyat. Jadi, semua yang dilakukan oleh pejabat tinggi negara itu seharusnya untuk dinikmati rakyatnya, bukan untuk dinikmati pejabat itu.

Pada saat ini perpolitikan di Indonesia sudah makin aneh saja, bayangkan saja seorang artis, dimana artis adalah seorang publik figur yang mana mereka bekerja untuk menghibur masyarakat dan juga dimana mereka pun bahkan tidak memiliki pengetahuan dasar tentang politik itu, malah mereka dengan berani terjun ke dunia politik. Kita tahu artis kita banyak sekali yang kawin dan cerai, apakah dia bisa memimpin sebuah daerah, jika memimpin keluarga sendiri saja tidak bisa? Saat ini sudah banyak artis yang menjadi wakil rakyat bahkan ada yang sudah menjadi seorang Gubernur, Bupati, Wali Kota, dll. Seperti saja Rano Karno sukses terpilih menjadi wakil walikota Tangerang, Dede Yusuf dipercaya oleh masyarakat Jawa Barat sebagai Wakil Gubernur, Adji Masaid sekarang sedang menjabat sebagai anggota DPR RI, dan masih banyak lagi yang lainnya. Bahkan di Kota Serang Banten saat ini sedang dilaksankan PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah), yang mana salah satu calonnya adalah seorang Penyanyi Dangdut (Saipul Jamil) yang ikut bersama Fraksi PPP, tapi anehnya kenapa para artis tersebut banyak yang berhasil menjadi pemimpin. Apa yang ada dalam pikiran masyarakat kita? Apakah mereka bosan dengan pemimpin-pemimpin yang itu-itu saja? Tapi, jika seorang artis bisa menjadi pemimpin yang baik, kenapa tidak kita beri mereka kesempatan untuk menjadi pemimpin. Semoga mereka (artis) dapat mengemban amanat yang diberikan oleh rakyat. Mungkin setelah kita mendengar itu semua, kita berfikir bahwa politik itu kejam, curang, tidak berperikemanusiaan, bahkan aneh dan membingungkan. Padahal jika politik itu dilaksanakan dengan seharusnya dan sebaik-baiknya, maka politik itu bisa jadi menyenangkan dan akan dapat merubah kondisi negara ini yang hancur menjadi makmur.

Pemilihan Umum (PEMILU) akan kita hadapi 2009 nanti. Komisi Pemilihan Umum pun (KPU) telah dilantik. Maka sebentar lagi kita akan mendapat dan merasakan pemimpin kita yang baru setelah Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK). Apakah mungkin Susilo Bambang Yudoyono (SBY) atau Jusuf Kalla (JK) akan kembali menjadi Presiden? Kita belum tahu untuk hal itu, karena Pemilihan Umum belum dilaksanakan. Kita sangat mengharapkan seorang pemimpin yang dapat mensejahterakan rakyatnya yang tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya. Dan semoga pemimpin kita kelak dapat melaksanakan politik itu dengan secara baik, serta tidak menjadikan rakyatnya sebagai “dayang-dayang” yang harus selalu melayani Pimpinannya. Semoga Pemilihan Umum (PEMILU) kelak dapat berjalan dengan aman dan damai. MERDEKA !!!

Created by: bagus_kamal